Entri Populer

Minggu, 03 Maret 2013

cerpen 12 sky of keys part 6



Aku yang hanya seorang wanita ini nggak mampu menahan tarikan mereka. Belum punya dewa pelindung, fisik sedang dalam kondisi nggak prima, dan situasi yang nggak memungkin kan membuat ku nggak bisa melakukan apa-apa.

            “Siapa saja tolong aku!,” Batin ku ketakutan.

“Lepas kan gadis itu!,” Seseorang berteriak dari luar gang. “Lepas kan majikan ku!”

            Majikan? Sama-sama penasaran, kami pun menoleh ke sumber suara bersamaan. Eh? Dia lagi? Kenapa dia ada di sini? Lalu apa maksud nya dengan ‘majikan’? Suasana hening sebelum akhir nya kerumunan berandalan ini tertawa secara bersamaan.

            “Rupa nya hanya pria kecil yang sok jago,” Pria yang badan nya paling besar masih tertawa melihat nya. “Kalau masih ingin hidup, lebih baik pulang saja.”

“Lagi pula pakaian apa itu? Aneh sekali! Kau biksu apa?,” Mendengar itu semua tertawa lagi.

“Aku tidak keberatan jika kalian memanggil ku pria kecil. Tapi…”

“Tapi apa, hah?”

“Aku keberatan jika kalian menghina pakaian ku.”

“Lalu kau mau apa? Mau menghajar kami?”

“Akan aku memusnah kan sampah-sampah seperti kalian!”

            Mata nya berubah menjadi merah! Aku bisa merasakan nya. Aura negatif, keluar dari dalam tubuh nya. Aura membunuh. Sangat besar dan menakut kan. Tapi para berandalan di samping ku, mereka hanya menatap pria berambut hitam yang terlihat seperti kerasukan dengan wajah menantang.

            Dengan cepat, pria yang tadi nya lembut berubah ganas. Dia berlari dengan cepat ke arah ku dan langsung menyambar berandalan yang tadi menarik tangan ku. Mendorong lalu menendang nya sampai terpental jauh kebelakang.

            Sama dengan ku, para berandalan itu pun terlihat kaget. Seorang pria lembut seperti nya bisa melakukan hal itu. Karna merasa di leceh kan, akhir nya para berandalan itu menyerang nya secara bersamaan. Tanpa ada rasa takut, pria berwajah lembut itu langsung menghajar berandalan sekaligus.

            Dia menang! Dia mengalah kan para berandalan ini sendirian! Nggak mungkin. Karna takut mendapat luka yang lebih parah, akhir nya para berandalan itu lari meninggal kan kami di gang kecil yang sepi ini.

            “Kau tidak apa-apa?,” Tanya nya. Mata nya kembali berwarna hitam seperti semula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar