Entri Populer

Selasa, 12 Februari 2013

cerpen 12 sky of keys part 5


Rasa nya seperti tersambar petir. Aku nggak bisa menggerakkan tubuh ku begitu kerumunan murid perempuan di depan ku menatap tajam kerah ku. Aduh, kenapa hal yang paling ku takut kan terjadi.

            Pria yang memakai baju seperti biksu itu berjalan mendekati ku. Senyum kecil di bibir nya membuat pria berambut hitam itu terlihat semakin menarik di mata kerumunan di sekitar nya. Dan itu akan jadi malapetaka untuk ku.

            “Ichi, rupa nya kau ada di tempat seperti ini, ya?,” Ucap nya lirih dengan senyum kecil yang masih bertahan di bibir nya.

“Se-sedang apa kau di sini?,” Sahut ku gugup karna kondisi ku yang makin nggak aman ini.

“Tentu saja mencari mu,” Balas nya langsung. “Aku ingin bertemu dengan…”

“Jangan dekati akuuuu~~!!”

“I-Ichi?”

            Karna takut di keroyok banyak anak, aku memilih jalan untuk pergi dari tempat kejadian. Melakukan penyelamatan diri lebih penting dari pada rasa bahagia ku begitu mendengar alasan nya. Setidak nya dia nggak marah, aku pun lega. Tapi seperti nya aku punya masalah lebih besar sekarang.

            Karna takut dia akan menemukan ku, aku langsung berlari ke arah gang kecil untuk bersembunyi. Saking takut nya aku sampai-sampai nggak memperhatikan langkah ku sehingga…

            “Aduh!,”

            Tiba-tiba saja tubuh ku menabrak sesuatu yang keras. Tubuh ku sedikit terpental kebelakang kemudian jatuh terduduk. Dengan kepala yang masih terasa pusing, aku mencoba mengangkat kepala ku untuk melihat apa yang baru saja ku tabrak.

            “Hoo..  Kau kenapa nona manis? Kenapa terlihat terburu-buru begitu?”

            Gawat! Niat nya mau bersembunyi malah kena masalah. Padahal aku belum dapat kunci langit nya. Cih! Melawan pun percuma. Jumlah mereka banyak, sudah begitu mereka bawa senjata pula. Bagaimana aku bisa menang kalau begini?

            “Ada apa nona manis? Wajah mu terlihat pucat sekali?,” Salah seorang dari kerumunan berandalan ini kemudian menarik tangan ku.

“Biar wajah mu nggak pucat main dengan kami saja, yuk?,” Pria satu nya pun nggak mau kalah dan langsung menyeret ku ke ujung gang.